Genjer-genjer, Hikayat Lagu PKI Itu..

Inilah lirik lengkap lagu legendaris itu:

Genjer-genjer nong kedok-an pating keleler
(Genjer-genjer di pematang, berserakan)
Emak-e tole,teko-teko mBubuti genjer
(Ibunya anak-anak, datang-datang mencabuti genjer)

Oleh sak tenong mungkor sedot seng tole-tole
(Dapat sebakul lalu ngeloyor pergi dapat yang kecil-kecil)
Genjer-genjer saiki wis digowo muleh
(Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang)

Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
(Genjer-genjer pagi-pagi dijual di pasar)
Dijejer-jejer,diuntingi, podo didasar
(Dibariskan, diikat dan semua digelar)

Emak-e Jebreng podo tuku nggowo welasan
(Ibunya Jebreng pada beli membawa belasan ikat)
Genjer-genjer saiki wis arep diolah
(Genjer-genjer sekarang siap diolah)

Genjer-genjer dipopulerkan Lilis Suryani dan Bing Slamet di awal tahun 60an. Untuk versi Bing Slamet bisa didengarkan disini.

Hikayat awal lagu ini mesti ditarik jauh pada masa penjajahan Jepang. Dikala itu kehidupan rakyat amat sengsara. Untuk makan sehari-hari banyak yang mesti mengganti beras dengan gaplek dan bahan lainnya.

Untuk memenuhi kebutuhan perut, tanaman yang tadinya tak dilirik, akhirnya mesti dimanfaatkan. Salah satunya adalah genjer, tanaman liar yang tumbuh di sawah akibat sawah yang kosong tak tertanami padi.

Kondisi ini yang kemudian mengilhami Mohammad Arief, seorang seniman asal Banyuwangi untuk memotret keadaan sekitarnya dalam sebuah lagu. Lagu dengan lirik tak neko-neko dan aransemen yang juga tak rumit.

Sampai sebelum tahun 1965, Genjer-genjer sering diputar di radio dan jadi hits. Tapi setelah meletusnya G30S, nasib tembang ini jadi berubah drastis.

Tak jelas apa sebabnya, Genjer-genjer kemudian distigmatisasi sebagai lagu PKI. Mungkin karena dipicu masuknya sang pengarang ke LEKRA yang merupakan organisasi sayap PKI plus kemungkinan sebab lain yang juga tak selalu terang.

Yang jelas, dalam film pengkhianatan G30S/PKI versi orde baru, Genjer-genjer dijadikan soundtrack saat para jenderal disiksa si lubang buaya. Sejak saat itu lagu ini menjadi tabu dinyanyikan. Lagu yang membawa aura jahat dan penyiksaan. Nasibnya menjadi kelam, sekelam penciptanya yang menjadi korban revolusi.

Sebuah kekeliruan sebenarnya, apalagi jika merunut penciptaan lagu ini yang mestinya kembali jauh pada masa pendudukan Jepang. Sejarah memang tak selalu bisa dinalar Jendral![]

Tulisan terkait:


Advertisement